ASQINEWS.com, Jaarta — Biasanya, perjalanan kereta api adalah soal ketepatan waktu. Kali ini, Kereta Api Sangkuriang menawarkan lebih pengalaman.
Sebuah video Instagram dari akun BWI24JAM yang merekam tujuh penari Gandrung menari di lorong sempit KA Sangkuriang dari Stasiun Kalibaru menuju Ketapang, Banyuwangi, Jumat (25/9/2026) lalu, viral dan menyita perhatian publik.
Dalam video berdurasi singkat itu, tak ada pengumuman. Hanya tabuhan kendang rancak, gemerincing gong, dan mahkota omprok emas yang menjulang di antara kursi penumpang. Para penari dengan sampur merah menari di antara tas-tas di bagasi, menyapa penumpang yang awalnya kaget, lalu spontan mengangkat gawai.
Ini adalah program "Gandrung On Train", bagian dari KAI Mini Fair HUT ke-81 KAI. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi KAI Daop 9 Jember dengan Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9, Cahyo Widiantoro, menyebut inisiatif ini sengaja dirancang agar perayaan bisa dirasakan langsung oleh pelanggan, bukan sekadar seremoni. "Ketika kesenian Gandrung hadir di dalam kereta, pelanggan tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjadi bagian dari suasana perayaan," ujarnya.
Lalu, apa makna dari tarian di dalam gerbong yang sedang melaju ini bagi dunia pelayanan publik?
Pakar dan praktisi pelayanan publik, Dr. (c) A.G. Purwanto Edi, M.M., CMT., CCRM., CCKA. memberikan catatan tajam. Kepada wartawan, Sekjen Asosiasi Service Quality Indonesia (ASQI) itu hanya berkomentar singkat namun penuh makna: “Kerenn ini, sangat customer experience.”
Menurut Purwanto, apa yang dilakukan KAI Daop 9 dan Pemkab Banyuwangi telah melompat dari level service delivery menjadi experience delivery.
"Selama ini, pelayanan transportasi publik di Indonesia masih terjebak pada paradigma safety and on-time. Itu penting, tapi itu adalah basic expectation. Yang dilakukan di KA Sangkuriang ini adalah melayani emotional need pelanggan. Penumpang tidak hanya diantar selamat sampai Ketapang, tapi jiwanya disambut oleh kebudayaan," jelas Purwanto kepada ASQINEWS.com, Jakarta Rabu (30/9/2026).
Ia menilai, KAI telah memahami inti dari pelayanan publik modern: bukan sekadar memindahkan orang, tapi menciptakan memori.
Analisis lebih jauh, Purwanto melihat ada rumus besar yang berhasil diuji di Banyuwangi ini.
"Kalo titik-titik kota budaya, para stakeholders wabilkhusus pemda juga berkolaborAKSI dan berkolaBAROKAH, maka ekosistem transportasi budaya menjadi daya tarik maksimum bagi masyarakat, superjozzh, misal Yogya... Solo... Semarang... dan lain-lainnya," ujar pengamat yang juga CEO Developing People Consulting Indonesia ini.
Istilah kolaborAKSI dan kolaBAROKAH yang ia pakai, menurutnya, adalah kunci. KolaborAKSI adalah kolaborasi yang tidak berhenti di MoU dan foto bersama, tapi langsung ada aksi nyata di lapangan - seperti tujuh penari yang benar-benar naik ke gerbong. Sementara kolaBAROKAH adalah kolaborasi yang membawa berkah bagi semua pihak: KAI dapat citra positif dan loyalitas pelanggan, seniman dapat panggung dan pelestarian budaya, Pemda dapat promosi wisata, dan masyarakat dapat kebahagiaan.
"Bayangkan jika model ini direplikasi. Di Yogyakarta, kereta disambut gamelan dan abdi dalem. Di Solo, ada tari Bedhaya di stasiun. Di Semarang, ada Gambang Semarang di atas kapal. Maka transportasi kita bukan lagi sekadar alat mobilitas, tapi menjadi moving destination, destinasi yang bergerak. Itu yang disebut ekosistem transportasi budaya," lanjutnya.
Purwanto menegaskan, inilah wajah pelayanan publik yang dirindukan. Pelayanan yang tidak kaku, birokratis, dan seragam, tapi pelayanan yang punya rasa lokal, punya jiwa, dan memanusiakan manusia.
Dari dalam gerbong KA Sangkuriang, Banyuwangi telah memberikan pelajaran: ketika kereta tidak hanya berjalan di atas rel, tapi juga berjalan di atas rasa, maka kepuasan pelanggan akan melaju jauh lebih kencang dari kecepatannya.
Antusiasme publik terlihat di kolom komentar Instagram BWI24JAM. Dari ratusan komentar, dua komentar paling mencerminkan perasaan publik.
Komentar dengan like terbanyak datang dari akun @mr.riqi yang menulis singkat namun mengena: "Gandrung sepurrrr". Komentar ini disukai 166 orang, menjadi simbol bagaimana kereta (sepur) dan Gandrung berhasil menyatu di benak penumpang.
Sementara akun @tr68462 mewakili apresiasi atas kolaborasi tersebut: “K.E.R.E.N ide crative nya @kai121_ dan Pelaku seni Banyuwangi”
Komentar cerdas lainnya juga muncul dari @issaintoso: "Definisi kereta yang sedang banyak digandrungi" - sebuah permainan kata yang mengaitkan viralitas kereta dengan Tari Gandrung itu sendiri.
Hal ini menguatkan analisis Purwanto bahwa masyarakat hari ini tidak hanya butuh transportasi yang cepat, tapi transportasi yang punya rasa, punya cerita, dan punya jiwa.
Tentang Narasumber:
Dr. (c) A.G. Purwanto Edi, M.M., CMT., CCRM., CCKA. adalah Sekjen Asosiasi Service Quality Indonesia (ASQI), Founder & CEO Developing People Consulting Indonesia, serta praktisi dan pakar pelayanan publik.
Penulis: Redaksi ASQINEWS
ASQINEWS.com | Indonesia Lebih Melayani | Mengawal Kualitas Pelayanan Unggul Indonesia
Tinggalkan komentar
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *